//
you're reading...
Catatan Pribadi

Ingatan Tentang Kerusuhan Mei 1998 di Solo

30 Mei malam saya berada diantara kerumunan 60 pasang mata di studio I Gedung Kesenian Solo. Studio itu masih saja menjadi studio yang pengap, tidak pernah berubah semenjak setahun yang lalu. Untungnya, sebuah blower pinjaman dihidupkan dengan kecepatan tinggi disudut ruangan. Setidaknya ada angin yang menerpa meski blower itu sebenarnya tidak menyelamatkan, debu-debu justru beterbangan di dalam ruangan.

Studo I GKS memang sangat unik. Lampunya masih lampu neon yang di gantung menggunakan tali di dinding studio. Mematikannya saja masih dimatikan secara manual, memutus aliran listri ke neon dengan cara memutarnya. Bagaimanapun, bioskop ini bioskop terbaik yang ada di Indonesia. Layar 5 X 10 meternya sudah memutar ribuan film. Dan setahun terakhir memutar film-film terbaik karya anak negri. Setahun belakangan ini bioskop ini memang sering dipakai untuk pemutaran film yang tidak akan pernah diputar di bioskop komersil manapun. Seperti malam 30 Mei, layar itu (yang sebenarnya MMT) memproyeksikan film documenter kerusuhan Mei 1998 karya Eddy Yasa. Film berdurasi sekitar satu jam itu merupakan satu-satunya dokumentasi kerusuhan Mei 1998. Eddy Yasa, mantan wartawan itu sengaja membuat film itu sebagai dokumentasi pribadi.

Agak merinding dan takut melihat film itu. Betapa kata kemanusiaan seolah menjadi kata yang asing dan jauh dari pemaknaan manusia. Entah dengan kemarahan yang seperti apa, dendam, kemunafikan, penghianatan, atau entah apa, telah membunuh kemanusiaan. Kebakaran dimana-mana, penjarahan dimana-mana, katakutan dimana-mana. Ibu pertiwi dibakar oleh anak sendiri.

Eddy Yasa, melalui film itu menyampaikan fakta bahwa para perusuh sebenarnya diprovokatori orang-orang berambut pendek, selalu menggunakan helm dan bertato sama. Kerusuhan waktu itu, aparat sama sekali tidak dibekali peluru karena takut mengulang kembali kejadian Trisakti.

Pendengaran Mei ‘98

Saya pribadi tidak memiliki ingatan apa-apa tentang kerusuhan Mei 1998. Saya dan keluarga tinggal di sebuah kampung di Kabupaten Boyolali, sebuah peradaban yang saya kira sangat jauuuuhhhh sekali dari peradaban kota. Jadi mohon dimaklumi ketika saya tidur pulas sampil netek putting emak, saya tidak tahu di Solo terjadi bakar-bakaran.

Saya mendengar kerusuhan Mei ’98 di ruang kelas 5 dari guru saya yang paling tambun, pak Sukardi namanya. Cerita-cerita besar tentang kerusuhan yang terjadi di Solo saya baca seperti buku-buku sejarah yang menjadi acuan belajar saya. Sesuatu yang sangat jauh, dan tugas saya adalah menghafalkannya kalau saya mau mendapat nilai yang baik. Pak Kardi bercerita ksisis moneter menjadi pemicu kerusuhan di Solo, Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia. Di Jakarta terjadi demonstrasi besar-besaran yang menewaskan beberapa mahasiswa Trisakti. Di Solo justru terjadi kerusuhan yang sangat anarki, api membakar setiap sudut kota. Terjadi penyiksaan, pemerkosaan dan penjarahan terhadap etnis-etnis China. Satu-satunya yang membuat saya iri, tinggal di desa yang jauh dari kerusuhan berarti tidak bisa menjarah. Padahal saat itu saya ingin sekali punya kaset westlife. Otak kriminal.

Saya membayangkan krisis moneter seperti monster yang ada dibawah ranjang, ketika kelaparan akan siap mengamuk. Sejak saat itu, saya dan teman-teman SD saya sering mendendangkan lagu ‘krismon..krismon.. krisis moneter’. Sumpah, saat itu saya benar-benar tidak mengerti apa itu krisis moneter. Istilah itu seperti istilah ‘milenium 2000’ yang saya dengar dua tahun kemudian. Asing.

Saya dan Jam Tangan

Saya ingat, pada bulan Mei 1998 saya tidak bisa masuk sekolah beberapa minggu. Amandel saya membengkak cukup parah. Saya hanya diperbolehkan makan bubur sun (bubur bayi) dan pisang. Jambu biji, es pelangi, bakwan menjadi semacam buah terlarang, buah yang tidak boleh saya lihat atau sekedar mengucapkannya.

Bulan Juni, saya di bawa ke RSUD Boyolali. Setelah diperiksa dokter, saya harus dioperasi minggu itu juga. Ah.. operasi bukan sesuatu yang menakutkan bagi saya. Saya justru merasa aneh dengan kekhawatiran bapak yang terlalu berlebihan. Operasi semacam tantangan yang belum pernah saya hadapi sebelumnya. Saya suka merasakan sakit, karena rasa sakit berarti saya dihalalkan meminta apapun kepada bapak. Bapak memang terlalu memanjakan saya, selalu menuruti keinginan saya.

Saya ingat betul, sebelum saya operasi saya sudah menyiapkan list yang harus bapak kabulkan :

Waktu itu saya ingin membeli banyak buku di belakang Sriwedari, Jaket baru dan jam tangan baru.

Bapak hampir mengabulkan semua permintaan saya, kecuali jam tangan. Setelah berhari-hari saya mengunci diri dikamar meminta jam tangan akhirnya bapak mengabulkan. Kami akan membeli jam tangan di Kartasura.

Kami tiba di Kartasura, masih dengan vespa putih favorit bapak. Hari itu saya berbahagia karena sebentar lagi akan memiliki jam tangan baru. Sayangnya, bapak tidak pernah benar-benar memasuki toko jam tangan dan mempersilakan saya memilih jam tangan yang saya impikan. Bapak seperti sedang ingin mengajakku bertamasya dalam sebuah peristiwa yang tak kumengerti. Ia menunjukkan toko-toko yang hangus terbakar. Toko-toko yang meninggalkan bangkai dan banyak cerita yang tidak saya mengerti. Saya ingin marah, entah kepada bapak, entah kepada Tuhan atau siapapun yang membakar mimpi saya mengenakan jam tangan baru. Pada akhirnya saya hanya bisa diam. Memendam mimpi dalam-dalam.

Padaku bapak berkata “toko-toko dibakar, tak ada yang menjual jam tangan untukmu”.

Saya mengerti. Saya hanya harus diam.

Tidak Pada Apapun

Tidak pada perasaan kecewa seorang gadis kecil yang dipendam bertahun-tahun. Kekecewaan yang tak bisa diobati meski keinginannya dikabulkan jauh lebih baik pada saat ini. Terlambat. Karena kekecewaan si gadis bukan perkara benda mati. Perkara ikatan batin ayah dan anak. Tidak pula pada kemarahnya, marah entah pada siapa.
Tidak pada perasaan perempuan tak berdaya. Tidak pada tangis seorang ibu yang kehilangan anaknya. Tidak pada ayah yang kehilangan penghidupan dan harapan untuk anak-anaknya. Tidak pada kakek-nenek yang kehilangan masa tua bahagia.

Tidak pada apapun. Kekuasaan, kepentingan atau apapun itu, tidak akan pernah mengerti. Semoga pemaknaan kemanusiaan tidak henti pada kuasa dan kepentingan yang entah.

Advertisements

Discussion

2 thoughts on “Ingatan Tentang Kerusuhan Mei 1998 di Solo

  1. Sadis katanya negara dengan penduduk Islam terbesar tapi di negara berpenduduk islam perempuan dipijak-pijak. inilah buktinya orang Indonesia tidak punya belas kasihan, jadi wajar kalau gempa dimana-mana. Saya melihat realitas kehidupan, semua orang hanya mementingkan keuntungan diri sendiri, rakyat kecil & lemah ditindas atas nama HUKUM. hak-hak rakyat kecil diambil karena kekuasaan & ketamakan. Saya dari dulu katakan Neraka buat tentara, lihatlah Prabowo & Wiranto malah sibuk jadi Capres 2014, padahal aktor utama tragedi mei 1998 mereka, mereka membiarkan etnis tionghoa dibunuh. seperti binatang itulah yang saya lihat, tidak punya prikemanusiaan. Lihat kasus kejahatan beberapa tahun ini, begitu terharunya ada yang di mutilasi, begitu dikecam semua orang, tapi mereka tidak tau, orangtua mereka yang hidup di tahun 1998 lebih kejam & lebih sadis memperkosa gadis-gadis tionghoa. Memang masuk sorga itu gampang, hanya modal bertobat & berdoa & bertaqwa, percuma kalau mau jadi setan jadi setan saja sekalian. tiada ampun, hukum itu tajam. Saya belajar kasih disini percuma, keputusan saya tetap, hukum adalah panglima tertinggi.

    Posted by Ahisamakh | April 10, 2014, 1:30 pm
  2. e-book bisa dibeli di sini atau hub 081578830445
    http://store.solopos.com/produk/buku/ebook/rekaman-lensa-peristiwa-mei-1998-di-solo/

    Posted by priyono | August 18, 2015, 3:17 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: