//
you're reading...
Catatan Pribadi

Tentang Ingatan (Bias yang Tak terlupa)

Sabtu Pagi

Sabtu pagi, bapak pulang dengan vespa putihnya. Masih selalu mengucap salam ‘assalamualaikum’ dengan nada khasnya. Sayangnya, tulisan ini tidak akan bisa mewakili bagaimana bapak mengucapkannya. Sabtu pagi itu, bapak membawa seekor kucing coklat yang masih sangat kecil, mungkin baru berusia dua minggu. Kucing itu sangat lemah. Aku agak geram pada bapak, teganya membawa kucing lemas dimasukkan kedalam kantong plastik. Tapi bapak punya alibi ‘lebih tidak manusiawi lagi kalau membiarkan kucing ini mati tertabrak motor dijalan sana’. Ah, ya.. bapak menemukan kucing itu dijalan raya dekat kampungku, jalanan yang ribuan motor melintasinya setiap hari.

Aku dan Jono, lelaki 11 tahunku yang jenius menyambut kucing itu dengan gembira. Jono membopongnya seperti membopong bayi, tingkah keduanya menggelitikku. Lelaki itu, lelaki yang selalu membopong kucing meski orang rumah selalu melarangnya, lelaki yang selalu meminta maaf setiap ketahuan membopong kucing. Dan kucing dihadapannya seolah meminta untuk sekedar dielus olehnya. Entah.

Aku khawatir, pada si coklat yang lemah. Aku dan Jono memberinya minum susu dan sedikit ikan asin yang kucuri dari meja makan emakku. Si coklat menghabiskannya, aku dan Jono tos, bersorak gembira. Jono gembira entah karena sebab apa, aku gembira karena tidak sedang mengajari Jono untuk mencintai binatang, dia lebih dulu melakukannya. Aku gembira karena masuk dalam dunianya, dunia yang membuatku ingin selalu mencium hidungnya. Entah.

Minggu pagi, aku merasa kehilangan. Tak ada lelaki jenius yang sembunyi-sembunyi membopong kucing dan merontokkan bulu-bulunya. Tak ada suara meong-meong kelaparan yang lemah. Suara itu seakan semakin melemah dan hilang. Kutanyakan pada emakku, dimana si kucing sabtu pagi itu. Tak ada jawab. Kutanyakan pada Jono, dia hanya menjawab ‘ilang’ (hilang). Aku terpaksa harus percaya kepada Jono, karena seumur hidup dia tidak bisa berbohong. Kucing itu, kuanggap tak betah tinggal dirumahku, rumah yang tak selalu punya ikan untuk kubagikan padanya. Setelah sehat, mungkin dia memilih pulang kerumahya, kembali menyusu pada induknya. Seperti kebanyakan kucing, ia akan selalu ingat dimana ia pernah tinggal, akan selalu tahu kemana harus kembali.

Senin sore, dalam kepenatan kuliah yang tak pernah jelas akan kemana arahnya, aku menemukan sesuatu yang bagiku membahagiakan tapi pedih. Dikandang sapi belakang rumah, aku berteriak ‘makk… lha iki kucinge mati neng kene’ (mak, lha ini kucinnya mati disini). Aku memanggil Jono, berteriak-teriak labil seperti orang kebelet be’ol tapi semua kamar mandi dipake. “Jono…. Jono….. kucinge mati”. Jono datang dan hanya berkomentar “mati” khas dengan nadanya. Sekali lagi, sayang tulisan tak bisa mewakili nada Jono mengucapnya. Kami berdua duduk dihadapan kucing, memandanginya begitu dalam. Sungguh tak bisa kugambarkan peristiwa dramatis ini #lebay.

Sore itu juga, terjadi pemakaman dirumah kami. Hanya aku dan Jono pelayatnya, hanya aku dan Jono yang menguburkannya. Tapi tak hanya kami yang kehilangan. Jono dengan lagak sok seriusnya, mengusung kucing itu seperti mengusung mayat beneran. Sebuah penghormatan yang mengharukan.

Aku menggali tanah disamping kiri rumah dekat kamarku. Tidak ada kembang, yang ada hanya dedaunan kering yang berjatuhan. Tidak ada batu nisan, yang ada hanya ranting patah yang ditancapkan. Tak ada nama. Kucing itu resmi kami kuburkan seadanya, seperti kami ingin dikubur dengan sederhana pula. Kucing Sabtu pagi itu telah moksa, berbahagia dengan hati yang damai. Kami tidak pernah menangisinya, hanya akan selalu mengingatknya karena segelas susu pernah menghubungkan kami.

Kembali Menggali

Agustus 2011, bulan ulang tahun Jono yang keempatbelas adalah bulan yang suram bagiku. Lembur sampai pagi dan tidur pulas pada siang hari menjadi sesuatu ritual. Merasa lelah dan penat pasti. Jum’at pagi, hari yang berkah menjadi hari yang tiba-tiba meminta kupilih untuk merdeka sejenak. Berbahagia menjadi sesuatu yang mudah saat ini, tidak mahal. Kau hanya perlu bertemu dengan seseorang, Jono. Maka kau akan merasa harus mencium hidungnya.

Pagi itu, aku ingin menanam pohon. Menyenangkan bukan? Aku mengajak Jono untuk menanam pohon, rasanya tidak ada motiv mulia yang ingin mengajarinya bagaimana memperlakukan pohon. Aku bukan kakak yang baik, yang bisa mengajarinya banyak hal tentang dunia. Bersamanya pagi itu, tak lebih karena aku berharap dia kembali mengajakku singgah dalam dunianya yang menakjubkan. Canda dengannya adalah kemerdekaan yang tak bisa kutemukan pada diri orang lain.

Aku menemukan pohon rambutan yang tumbuh liar dibelakang rumah. Karena posisi pohon tepat tritisan, akhirnya kuputuskan untuk kupindah. Pagi itu, kupanggil Jono. Dia yang ogah-ogahan akan selalu menyerah dengan ajakanku. Sambil terus bertanya apa yang akan kami lakukan, dia mengikutiku. “opo ma’ana?” Aku hanya menjawab “iki lho” sambil kutunjukkan batang pohon yang akan kutanam.

Jono tau betul apa yang akan kami lakukan. Aku selalu percaya padanya. Saat aku menggali tanah, Jono berulangkali bilang “kucing… mati.. opo ma’ana? Kucing? Nandi?” (kucing.. mati.. apa mbak anna? Kucingnya mati? Dimana?). Aku hanya diam karena tak mengerti apa yang dia tanyakan. Pelan-pelan, aku paham. Jono sedang mengingat kucing yang kami kuburkan 3 tahun yang lalu. Ingatan yang hampir kulupakan. My jenius broth.

Jono Jontor

Untuk Jono & Sabtu Pagi

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: