//
you're reading...
Catatan Pribadi

Kematian

Tiba-tiba ingin menulis. Ditengah malam begini. Tidak ditemani siapapun, selain lelaki yang entah didepanku. Rokok tak henti ia sulut, terdiam dalam kenikmatan yang entah. Disini aku terjebak. Terjebak dalam dentum erotisme konser yang entah. Tak perlu kupahami, si lelaki kutanyapun tak tau. Jadi kenapa harus menulis? Karena aku terjebak, dalam pikir sesat.

Kematian, menyesatkanku dalam pikiran-pikiran setelahnya. Orang-orang menciptakan upacara kematian, mengirim kembang dan membumbuinya dengan air mata. Tetangga akan berdatangan, membawa beras, membawa sumbangan atau malah menagih utang. Orang-orang mempersiapkan pemakaman, menggali lubang, mengubur dalam-dalam. Bila orang tua yang meninggal harus semakin dalam, seperti yang selalu diajarkan, sebuah pepatah yang tercipta setelah kematian ‘mikul duwur, mendem jero’.

Tiba-tiba orang bergunjing, merasa semuanya datang terlalu tiba-tiba. Bertanya sebab ini dan itu dengan bumbu cerita beraneka warna. Sedap betul kematian itu.

Bila aku mati, aku tak ingin siapapun mengenangku, menangisiku apalagi menulisku dengan kata-kata. Biar kata itu kubawa mati. Kutiduri diliang kubur sana. Aku yang akan rajin berdoa untuk yang hidup.
Lelaki, yang dirajakan oleh manusia, toh pada akhinya harus menyunggi keranda-keranda mayat si orang tua. Lelaki tak bisa tak tunduk dibawah mayat. Jadi, mengapa raja-raja kecil itu tumbuh dan berkembang biak begitu pesat?

Ketika keranda lewat, bunga akan ditabur disepanjang jalan, mengiring roh yang meninggalkan raga, dengan harap ia menempuh perjalanan baru yang lepas dari samsara. Terkadang dengan sedikit harap supaya tak mengganggu yang masih suka bersenggama. Orang-orang, tetangga dekat, tetangga jauh akan mempersilahkan jalan selapang-lapangnya untuknya. Tidak akan ada yang berani menerabas jalannya si keranda. Ketika tak sengaja si bocah kecil lewat dijalan yang sama, si emak akan menarik tubuhnya dan memarahi si bocah ‘pamali mlaku nrabas mayit’. Katanya, mempersilahkan mayit menikmati jalan yang lenggang adalah bentuk penghormatan terakhir. Tak boleh ada orang dijalan. Semua orang harus berada dalam rumah, setidaknya menghentikan langkah.

Kematian saat ini, tidak lagi ada keranda-keranda yang diusung lelaki dari rumah sampai kubur. Teknologi telah mengubah segala upacara, segala adat dan kepamalian. Tidak ada yang perlu menguatkan otot punggung untuk mengusung keranda berlama-lama karena ada ambulance. Dan tidak perlu lagi orang-orang menghentikan langkah untuk penghormatan terakhir. Siapa dia? Tidak lagi ada kepentingan tentang hal ini, yang ada hanyalah kepentingan tentang aku lebih dulu, tak peduli kamu bawa mayat yang harus dikubur sebelum hancur.

Sayangnya, ketika aku browsing gambar untuk artikel ini dengan kata kunci ‘keranda’, maka yang muncul ada kematian-kematian yang telah diplencengkan artinya. Aku menemukan keranda-keranda yang justru dipakai untuk berdemo para mahasiswa. Mungkin mereka ingin menyatakan bahwa pemerintahan sudah mati. Salah Besar !!!!! Pemerintahan itu tidak pernah ada. Omong kosong.

Sama sekali tak kutemukan bentuk kematian yang pernah kupahami dimasa kecil. Tak ada kematian yang agung. Sepertinya ada yang salah dengan sesuatu yang diajarkan padaku.

Advertisements

Discussion

11 thoughts on “Kematian

  1. aku juga heran tentang hubungan demonstrasi dan keranda. Konon, hubungan itu sudah muncul sejak tahun 70an. mengingat rentang waktu yang cukup lama, maka pemakaian simbol keranda sungguh tak lagi kreatip dan tak keren.
    cheers..

    Posted by toha a dog | January 17, 2012, 6:48 pm
  2. coba waktu itu kamu liat perfomance art di Lemah Putih, ada perfomer (temen aq) yg bicara ttg kematian..you and you can understand with death, of course…, you wil wil will understood bout that. sayang, ga boleh di foto/rekam/dok…

    Posted by desti | January 18, 2012, 2:43 am
  3. justru tu, kematian jadi hidup dan tak untuk ditangisi tapi untuk jadi permenungan dan penghayatan

    Posted by kawahinstituteindonesiaudin | January 18, 2012, 3:12 pm
  4. kata orang-orang tua “orang yang baik pasti meninggalnya cepet”.
    kataku “kalau udah waktunya meninggal ya meninggal.” 😀

    Posted by dek freez | January 20, 2012, 1:28 pm
  5. ada satu mati lagi… “mati” sebelum mati..

    Posted by Komunitas Gubuak Kopi | February 22, 2012, 3:55 pm
  6. Satu mati lagi… hidup tanpa melakukan apa-apa sama saja mati.. istilah kerennya “Mati Gaya” 😀

    Posted by saruangbolong | February 23, 2012, 3:46 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: