//
archives

Mama Raya

Mama Raya has written 35 posts for ASubekti

Gadis Kecil Penjual Koran

  Foto ini di ambil Bellbobb-depressed Maggot pada 2011 lalu. Pernah dipamerkan di Gedung Kesenian Solo dengan judul “Kucoba Bunuh Diri” ditahun yang sama. Saat melihat foto ini kali pertama, aku langsung tahu dimana foto ini diambil. Aku sering bertemu gadis itu. Gadis cilik penjual koran di perempatan Kota Barat. Orang tuanya juga melakukan pekerjaan … Continue reading

Kematian

Tiba-tiba ingin menulis. Ditengah malam begini. Tidak ditemani siapapun, selain lelaki yang entah didepanku. Rokok tak henti ia sulut, terdiam dalam kenikmatan yang entah. Disini aku terjebak. Terjebak dalam dentum erotisme konser yang entah. Tak perlu kupahami, si lelaki kutanyapun tak tau. Jadi kenapa harus menulis? Karena aku terjebak, dalam pikir sesat. Kematian, menyesatkanku dalam … Continue reading

Gamelan Srunen

Desa Srunen terletak 8 KM dari puncak Merapi dihuni kurang lebih 150 Kepala Keluarga. Penduduk Srunen bermata pencaharian sebagai petani, pedagang dan peternak. Keseharian penduduk Srunen mungkin sama dengan penduduk di desa lain, pergi berladang, menanam jagung, tomat, dan sayuran. Mengurusi pakan ternak, dan membuka warung. Sebisa mungkin dalam menjalani keseharian mereka hidup sederhana dan cukup, mengolah … Continue reading

Tentang Jono #1

Jono, Lelaki 14 tahunku adalah lelaki downsyndrom yang tak tahu diri. Dia punya kebiasaan yang kadang membuat orang lain bergidik, entah kaget, jijik atau malah haru. Setiap bertemu orang lain, entah yang ia kenal atau tidak, ia pasti menyalaminya dan langsung memeluknya. Beberapa minggu ini, aku mengamatinya disekolah. Jono adalah lelaki galak yang selalu berteriak … Continue reading

Tentang Ingatan (Bias yang Tak terlupa)

Sabtu Pagi Sabtu pagi, bapak pulang dengan vespa putihnya. Masih selalu mengucap salam ‘assalamualaikum’ dengan nada khasnya. Sayangnya, tulisan ini tidak akan bisa mewakili bagaimana bapak mengucapkannya. Sabtu pagi itu, bapak membawa seekor kucing coklat yang masih sangat kecil, mungkin baru berusia dua minggu. Kucing itu sangat lemah. Aku agak geram pada bapak, teganya membawa … Continue reading

Ingatan Tentang Kerusuhan Mei 1998 di Solo

30 Mei malam saya berada diantara kerumunan 60 pasang mata di studio I Gedung Kesenian Solo. Studio itu masih saja menjadi studio yang pengap, tidak pernah berubah semenjak setahun yang lalu. Untungnya, sebuah blower pinjaman dihidupkan dengan kecepatan tinggi disudut ruangan. Setidaknya ada angin yang menerpa meski blower itu sebenarnya tidak menyelamatkan, debu-debu justru beterbangan … Continue reading

Bawakan selembar kertas, kami siap membacanya.

Sebelum saya berfikir menulis artikel ini, dua orang teman saya pamit meninggalkan gedung tua ini untuk mencari buku di Gladak. Ketika saya akan menulis ini, saya baru saja meletakkan sebuah buku berjudul Wayang Wong Sriwedari. Motif pembacaan saya tak jauh dari pembacaan sejarah tentang Sriwedari, tempat dimana sebuah gedung tua menjadi persinggahan saya selama setahun … Continue reading

Catatan Mestruasi Juli 2011

Selasa, 5 Juli 2011 Saya bertanya dalam hati ‘ko perasaan saya bulan ini masih lempeng-lempeng aja ya? Belum ngambek’. Cukup kaget juga tiba-tiba berfikir demikian karena ini berarti sudah memasuki masa yang labil. Saya tiba-tiba merasa mendapat ‘warning’ bahwa minggu-minggu ini saya pasti meracau. Tapi saya menampik perasaan itu, pasalnya biasanya saya menstruasi pada pertengahan … Continue reading

Testimoni Christiana Dwi Wardhana

Sebenarnya eksistensi GKS sebagai komunitas para seniman dari berbagai kesenian amatlah baik, dari segi prakarsa dan kreatifitas mereka. Betapapun dalam kondisi bagaimanapun kehadiran dan kegiatan para seniman dalam GKS secara tidak langsung dapat mengisi ruang kosong berkesenian di kota Surakarta. Selain kegiatan kesenian yang juga dilakukan oleh para seniman dan lembaga lain di GKS. Artinya, … Continue reading

Malam Minggu

Tulisan ini saya ketik di malam Minggu. Malam yang telah berada pada titik kemarau. Malam yang selalu mengingatkan saya pada hujan. Saya salah satu orang yang merasa tradisi menghabiskan malam minggu bersama pacar itu konyol, bahasa gaulnya unyu-unyu. Saya tidak mengerti kenapa saya begitu sentimen dengan tradisi itu. Entah karena pacar saya ingin bermalam minggu … Continue reading